Alhamdulillah,

Pada Sabtu – Minggu lalu (26 – 27 Jun 10) jam 08.00 – 15.00, saya dan istri diberi keluasan waktu mengikuti  training yang lain dari yang biasanya saya ikuti yaitu Training Bait Qur’any yaitu sebuah training metode tahsin (hapalan) dan terjemah Al Qur’an kata per kata dengan gerak bagi anak-anak usia dini.

Training Hari Pertama, Sabtu 26 Jun 10.

Saya dan istri mengajak Dzakirah, anak kami, dan asisten RT untuk turut serta ke tempat training di Masjid Fathullah, Ciputat, UIN Jakarta. Pada setengah hari pertama Dzakirah dan asisten RT menunggu di pelataran Masjid sementara saya dan istri di aula lt.2 Masjid. Namun setelah makan siang, kami melihat bahwa dimungkinkan Dzakirah ikut masuk ke dalam aula, maka jadilah Dzakirah masuk dan duduk/berdiri di sebelah Umminya hingga akhir training hari itu.

Materi Sesi Awal Hari Pertama menerangkan mengenai pentingnya pengajaran Al Qur’an pada anak sejak dini. Dijabarkan oleh Ustadzah Nuruh Hikmah MA, bahwa banyak sekali teori-teori barat salah satunya teori Piasse mengatakan bahwa anak di bawah usia 7 tahun bila diajarkan membaca/bahasa maka akan mengalami kerusakan sel otak. Penelitian yang diadakan Piasse di Eropa tersebut jelas bertentangan bahkan tidak berlaku untuk umat Islam. Mengapa?

  • Pertama, karena masyarakat yang menjadi objek penelitian tsb adalah orang-orang atheis yang sangat mengagungkan materialisme dan tidak mengenal/mengakui Tuhan.
  • Kedua, teori itu juga terbantah dengan fakta sejarah bahwa IMAM SYAFEI telah khatam Al Qur’an pada usia 7 tahun. Pertanyaannya adalah bila sudah khatam pada usia 7 tahun, umur berapa Imam Syafei mulai belajar Al Qur’an? Silakan dipikirkan.

  • Ketiga, Hussein Thabatabain dari Irak hafal dan memahami arti Al Qur’an juga pada usia sekitar 7 tahunan. Pertanyaannya adalah sama dengan pertanyaan tentang Imam Syafei.

  • Keempat, teori Figotsky dari Eropa membantah teori Piasse, dengan berkata bahwa kematangan otak anak tidak ditentukan oleh usianya melainkan berdasarkan rangsangan yang diberikan lingkungan kepada anak tsb.

  • Kelima, kami para peserta melihat sendiri kemampuan dari murid-murid Bait Qur’any yang pada usia sekitar10 tahun telah mampu melafazkan dan menterjemah Al Qur’an kata-kata perkata sebanyak 3 juz.

Subhanallah……Allohu Akbar……

Kesimpulan dari materi setengah hari pertama ini adalah

  • Pertama, anak dapat diberikan pengajaran Al Qur’an sedini mungkin dengan metode yang tepat semenjak anak dapat mengerti bahkan walaupun anak belum bisa/lancar bicara. Pengajaran akan merangsang  otak untuk terus bekerja dan saat anak telah lancar bicara akan lebih mudah mengucapkan/melafalkan Al Qur’an.

  • Kedua, kita harus ekstra sangat hati-hati dengan berbagai macam pengaruh dan kepungan dari budaya barat yang tidak sesuai, bertentangan bahkan berbenturan dengan nilai-nilai Islam. Baik langsung ataupun tidak, baik sengaja ataupun tidak, budaya, teori, atau apapun bentuknya harus disadari berusaha menjauhkan kaum muslimin dari Al Qur’an.

  • Ketiga, kita harus membuat anak sibuk berkegiatan dengan Al Qur’an sebagai pengalih dari kebiasaan menonton televisi yang saat ini sangat mengumbar kemaksiatan dan sangat tidak cocok buat anak. Sedapat mungkin kita harus menghindarkan anak dari televisi, bila terpaksa menonton televisi maka harus selektif memilih program dan harus didampingi orang tua.

Kemudian Ustadzah Nurul, mengajarkan peserta melakukan contoh terjemah Al Qur’an kata per kata dengan gerakan-gerakan untuk 5 surat yaitu surat AnNaas, Al Kautsar, Al Lahab, Al Ikhlas, dan An Nashr. Metode yang digunakan sangat sederhana sehingga mudah dipahami, dihafal dan dilakukan oleh anak.. Sesi ini berakhir menjelang sholat dhuhur.

Setelah sholat dhuhur dan makan siang hari pertama, training Sesi Kedua  dibawakan oleh Ustadz Nurul Habiburahmanuddin, MA.

Sesi ini membahas bahasa Arab dari sisi shorof (bentuk-bentuk kata bahasa Arab). Pada awalnya saya berpikir bahwa bahasan ini akan membosankan karena membahas mengenai bahasa. Namun ternyata pikiran saya sama sekali meleset karena Ustadz Habib membawakannya dengan lagi-lagi metode yang sederhana sehingga mudah dipahami, dihafal dan dilakukan oleh anak.

Bentuk-bentuk kata tersebut yaitu Dhomair, Fiil Madhi, Mudhori dan Fiil Amr.

Ditambah dengan gerakan tangan kearah kanan dan kiri. Ke kanan menggambarkan ikhwan (laki-laki), ke kiri menggambarkan akhwat (perempuan) serta jumlah jari menggambarkan satu orang, dua orang, atau lebih dari 2 orang.

Dengan metode yang diajarkan oleh Ustadz Habib, peserta belajar bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab dan diaplikasi ke dalam terjemah Al Qur’an surat Al Ma’uun, Al Fatihah, dan Al Kautsar. Dan berakhirlah hari pertama dengan lancer.

Pada hari kedua, tidak terdapat metode baru, namun hanya melancarkan dan praktek pada surat-surat Al Qur’an lainnya.

Juga dipaparkan saat-saat awal perintisan Bait Qur’any oleh Ustadzah Nurul Hikmah. Dengan kesederhanaan dan keunggulan metode yang dimiliki namun ternyata tidak diikuti oleh kemampuan dalam pengadaan infrastruktur dalam proses belajar dan mengajar sehingga pada awalnya Bait Qur’any numpang di pelataran rumah orang. Lalu kemudian pelataran rumah tersebut dikontrak dan seterusnya hingga saat. Dan juga diinformasikan bahwa sekitar 50% peserta didik Bait Qur’any adalah anak-anak dhuafa sehingga harus dilakukan subsidi silang.

Training ditutup dengan penawaran kepada peserta bila berminat untuk membuka cabang Bait Qur’any.

Akhirnya, terima kasih kepada Bait Qur’any, Ustadz Nurul Habiburahman dan Ustadzah Nurul Hikmah. Semoga Bait Qur’any semakin maju dan semakin banyak pihak-pihak yang bersedia terlibat untuk menyebarkannya.

Semoga bermanfaat.

Abu Dzakirah